Kamis, 17 Maret 2011
Direktur Penulis Pidato Gedung Putih" termuda sepanjang sejarah
Tapi meski tidak pas, jangan remehkan Favreau: ia yang menulis naskah pidato pengukuhan Obama. Ya, penulis pidato Obama memang pemuda kelahiran 1981 dan ia menjadi "Direktur Penulis Pidato Gedung Putih" termuda sepanjang sejarah.
Untuk membuat naskah pidato pengukuhan, Favreau mesti bekerja keras. Kerja ini diawali dengan pertemuan pertama. Di sana Obama menjelaskan apa yang ingin disampaikan dalam pidato. Favreau menuliskan poin-poin pertemuan ini dalam komputernya.
Favreau tidak langsung menulis pidato hanya dari pertemuan ini saja. Ia dan timnya segera saja melakukan riset beberapa pekan. Mereka mewawancarai ahli sejarah dan para penulis naskah pidato lain. Mereka mempelajari periode-periode Amerika sedang mengalami krisis. Mereka juga mendengarkan pidato-pidato pengukuhan sebelumnya.
Saat data semua sudah masuk, Favreau segera saja "bertapa" di salah satu kafe Starbucks di Washington untuk menulis rancangan pertama naskah pidato.
Rancangan pertama selesai, dikirim ke Obama. Obama akan memotong atau menamahi atau memberi ide lain dan dikirim balik ke Favreau. Proses revisi ini diulang hingga empat atau lima kali sampai semua puas.
Bukan perkara gampang Favreau menjadi penulis naskah pidato Obama. Kesulitan pertama, karena Obama ini bukan hanya orator yang jago tapi juga penulis piawai. Dia sudah menulis dua buku yang kedua-duanya menjadi box office.
Favreau bekerja keras agar benar-benar memahami Obama. Ia mempelajari pola-pola dan struktur pidato yang biasa dilakukan Obama dengan sangat serius. Tidak hanya itu, ia menguntit kehidupan sehari-hari Obama agar makin memahami.
Pidato Obama pada Konvensi Demokrat 2004, yang membuat bocah Menteng ini naik ke permukaan politik Amerika Serikat, ia hapalkan. Dilaporkan bahwa kemanapun ia pergi, tangannya selalu membawa buku otobiografi Obama "Dreams From My Father".
Obama sangat percaya dengannya. Presiden berkulit hitam pertama Amerika ini bahkan menyebut Favreau sebagai "pembaca pikirannya." Kemampuan ini digunakan Favreau hampir setiap hari selama 18 bulan kampanye presiden yang berat.
Favreau hampir setiap hari tidur pukul 3.00 dini hari dan kadang bangun dua jam kemudian, menulis pidato untuk disampaikan hari berikutnya dengan bantuan kafein dari espreso atau Krating Daeng--di Amerika Serikat diberi cap Red Bull. "Entah kapan terakhir saya tidur lebih dari enam jam," katanya.
Saat Obama naik, Favreau sering digoda rekan-rekannya karena ia mulai terkenal. Tapi Favreau tetap tidak punya pacar karena pekerjaannya yang sekarang benar-benar menguras waktunya. Satu-satunya kegiatan diluar pekerjaan adalah bermain video game "Rock Band" jika sudah jenuh.
Saat pertama bertemu Obama, Favreau adalah sarjana berusia 23 tahun yang baru saja lulus dari College of the Holy Cross di Worcester dan bekerja untuk John Kerry dalam pencalonan presiden yang kemudian gagal.
Saat itu, secara tidak sengaja, Favreau mendengarkan Obama sedang mengulang-ulang pidato yang akan disampaikan dalam Konvensi Demokrat 2004. Pidato itu, kemudian, membuat nama Obama naik ke dunia politik nasional Amerika Serikat.
Saat melatih pidato itu, Favreau tiba-tiba saja memotong. Ia menganjurkan Obama menulis ulang salau satu baris pidatonya agar tidak mengulang. "Ia memandang saya, agak bingung sampai berpikir: siapa bocah ini?" kata Favreau mengingat pertama ia bertemu.
Favreau belakangan naik pangkat menjadi salah satu penulis naskah pidato Kerry. Tapi Kerry sendiri kalah dari George W. Bush dalam pemilihan presiden sehingga Favreau menganggur.
Pemuda ini masuk ke tim Obama atas rekomendasi Direktur Komunikasi Obama, Robert Gibbs, yang mengenal selama kampanye Kerry.
Saat itu, pekerjaan sebagai penulis naskah Obama cukup santai. Mereka kadang nongkrong bareng. Mereka juga memiliki kegemaran bisbol meski mendukung tim berbeda.
Suatu ketika, saat tim White Sox kesayangan Favreau menang atas Red Sox yang digemari Obama, Senator dari Illinois itu mesti membayar taruhannya: membersihkan meja Favreau dengan kemoceng.
Selama kampanye presiden, Favreau memimpin dua orang penulis naskah pidato lain: Adam Frankel, 26 tahun, yang pernah membantu bekas penasehat John F. Kennedy yakni Theodore C. Sorensen membuat memoi, dan Ben Rhodes, 30 tahun, yang pernah membantu menulis laporan Kelompok Studi Irak.
Meski memiliki pekerjaan begini serius, tapi usia yang masih muda tidak bisa disembunyikan. Ia kadang membuat guyonan yang memalukan. Misalnya saja, pada Desember lalu, dan seorang temannya difoto di sebuah pesta. Foto itu berlatar belakang poster kardus Hillary Clinton--pesaing Obama saat pemilihan pendahuluan- -dan tangan Favreau sedang memegang dada Hillary.
Sialnya, foto ini beredar di Facebook dan memaksa Favreau meminta maaf. Seorang juru bicara Demokrat berusaha mempositifkan kejadian ini dengan menyebut sebagai kebiasaan partainya untuk guyonan.
Untung saja insiden ini tidak banyak diberitakan sehingga dampaknya terbatas dan Favreau bisa menyaksikan bagaimana Obama memberi pidato pengukuhan yang ia tulis.
http://tempointerak tif.com/hg/ amerika/2009/ 01/21/brk, 20090121- 156228,id. html
()
Isi Pidato Obama Dibahas Serius Bersama Tim Penulisnya
Saya masih mempelajari setiap ide Obama di semua buku yang ada, dari kutipan-kutipan atau bahkan dari berita di koran. Dia memang pantas menjadi seorang presiden, memiliki visi yang jelas, tenang dalam menghadapi konflik dan terpenting adalah selalu optimis.
Berpikir positif adalah bagian yang selalu menjadi senjata dia ketika menghadapi kritik.Tetapi saya juga memiliki pandangan lain, selain seorang pribadi yang optimis, positif dan visioner, Obama juga manusia biasa. Dia bukan manusia super yang bisa membangun kepercayaan dan kemenangan dalam tempo yang sangat cepat.
Dia bukan superman yang bisa melakukan semuanya sendirian, dia butuh orang lain, dia butuh supporting system yang memungkinkan semuanya menjadi terrealisasi. Kemenangan waktu kampanye misalnya, dia disokong oleh ahli-ahli strategi didalam tim kampanyenya.
Para supporting system ini menyusun program, meriset, mendiskusikan dan merrealisasikan. Yang sering memukau bagi para audien kampanye adalah sebuah pidato. Bagaimana intonasi suaranya, bagaimana gaya bicaranya dan terpenting juga isi pidatonya.
Adalah Jonathan Favreau, alumnus jurusan ilmu politik di College of the Holy Cross, Massachusetts. Dialah otak dibalik pidato Obama, dari dia juga muncul ide kalimat legendaris kampanye Obama: ”Yes We Can”.
Setiap akan membuat pidato, Fav berkolaborasi dengan Obama: Obama berbicara, Fav mengetik setiap kata yang terucap. Fav lalu menulis ulang omongan Obama dengan kata-katanya sendiri. Begitu selesai mereka membahasnya.
Fav pasti tidak sembarangan membuat teks pidato, tentunya dengan riset dan kebutuhan.
Kemampuan ini teruji dari awal, Fav adalah mantan anggota tim kampanye John Kerry, kandidat presiden Amerika Serikat 2004 dari Partai Demokrat. Ia memulai dengan tugas merangkum berita di media untuk bahan evaluasi tim kampanye.
Selama kuliah, dia aktif diberbagai organisasi dan kegiatan sosial semacam Habitat for Humanity.
Saya melihat banyak hal positif dari dia, bukan semata-mata karena kemampuan membuat pidato kampanye yang akhirnya membuat Obama menang, lebih dari itu adalah semangat riset dan kemampuan membangun kepercayaan. Saya bukan Obamania sejati, tetapi saya belajar nilai-nilai penting dari sosok Barack Obama. Saya percaya perubahan, maka saya belajar tentang perubahan. Saya yakin setiap hari mengalami perubahan, saya percaya perubahan itu untuk kebaikan. Yes We Can!
(sosbud.kompasiana.com)
Tim Penulis Pidato Obama, Usia 29 Tahun
Speech Obama yang menyentuh banyak orang tak terlepas dari tangan dinginnya Jon Favreau. Anak muda berusia 29 tahun ini punya peran penting dalam rangkaian kata di setiap pidato Obama. Dia pula yang menciptakan slogan “YES WE CAN” hingga menghantar Obama menjadi Presiden AS ke-44, dan menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat. Favs (demikian dia biasa dipanggil) memang banyak membantu menuliskan pidato Obama selama masa kampanye Obama. Selama masa kampanye tersebut, Favs dan Obama sangat akrab. Keduanya menghabiskan waktu bersama-sama.
Favs yang memiliki nama panjang Jonathan Favreau lahir tanggal 2 di bulan Juni tahun 1981. Dia bersekolah di College of the Holy Cross dan lulus tahun 2003. Pada tahun 2004 Favs bekerja untuk John Kerry saat kampanye pilpres di tahun tersebut. Tugasnya mengumpulkan semua wawancara radio berita untuk bahan kampanye Kerry. Favs kemudian diangkat sebagai Deputy Speechwriter. Saat bekerja dengan Kerry itulah dia ketemu Obama untuk pertama kalinya.
Tahun 2005, Favs direkomendasi oleh Robert Gibbs pada Obama sebagai penulis pidato yang ulung. Robert Gibbs adalah seorang konsultan politik Amerika yang bekerja sebagai Press Secretary saat kampanye Kerry tersebut, dan sejak tahun 2004 dia bekerja dengan Obama sebagai Direktur Komunikasi. Saat ini Gibbs menjadi Press Secretary di Gedung Putih.
Jon Favreau (Sumber gambar: http://i.telegraph.co.uk)

Atas rekomendasi Gibbs tersebut, Favs pun dijadikan penulis pidato Obama tak lama setelah pemilihan Obama di senat Amerika Serikat. Sejak itu Obama dan Favs tumbuh dekat. Obama menyebut Favs sebagai seorang “Mind Reader (Pembaca Pikiran)”. Favs selalu mengikuti Obama selama masa kampanye pilpres. Dia menulis pidato kampanye Obama. Obama hanya mendiskusikan tentang apa yang ingin disampaikannya pada calon pemilih atau pendukungnya saat kampanye. Favs menerjemahkan hasilnya dalam rangkaian tulisan yang tepat dan pas bahkan menyentuh. Favs dan Obama merupakan perpaduan yang serasi. Obama seorang orator yang baik dan Favs seorang penulis pidato yang ulung.
Terpilihnya Obama sebagai Presiden AS, karir Favs pun melejit. Favs ditunjuk oleh Obama sebagai ketua tim perumus naskah pidato presiden, bersama belasan penulis senior yang menjadi anak buahnya. Posisi ini membuat Favs harus menanggalkan seragam kebangsaannya: celana jins dan sweater. Dia harus mengenakan setelan formal karena harus berkantor di Sayap Barat Gedung Putih.
Pidato-pidato yang diucapkan Obama ketika berada di Indonesia pasti tak lepas dari tangan dingin Jon Favreau, hingga buat banyak orang tergugah, termasuk Shanty, Radityadika, Mbak Desi Anwar, hingga Tora Sudiro. Saya sendiri pun barangkali demikian. Sayangnya, saya tak dapat undangan untuk menyaksikan speech-nya Obama di UI kemarin. Saya cuma kebagian macetnya saja.
(politik.kompasiana.com)
Tim Penulis Pidato Obama, Usia 31 Tahun
Sinyal mengenai dirinya sudah saya dapat semenjak adanya konferensi pers tim penulis pidato kebijakan luar negeri Presiden Barack Obama di Riyadh Saudi Arabia tanggal 3 Juni lalu, atau satu hari menjelang pidato yang bersejarah dan monumental itu.
Dalam konferensi pers tersebut, sang juru bicara mengatakan bahwa Barack Obama akan menyampaikan pidato penting di Kairo mengenai “Permulaan yang Baru” hubungan Amerika Serikat dengan Dunia Muslim.
Si Jubir itu namanya Ben Rhodes. Dia, tak lain dan tak bukan adalah konseptor pidato Barack Obama di Kairo. Jabatan resmi yang kini disandangnya, mengetuai tim penulis pidato kebijakan luar negeri Gedung Putih (The White House).
Benjamin Rhodes nama lengkapnya. Usia masih terbilang muda. Baru menginjak 31 tahun. Ia lulusan Universitas New York (NYU). Menatap wajah dari fotonya saja, siapapun orangnya pasti sepakat dengan saya bahwa ia tampan. Lebih takjub lagi, tatkala saya mengintip karya-karya tulisnya yang berbobot di blog PSA Online seputar masalah politik internasional.
Ia antara lain menulis tentang: The Politics of Distraction, Conspiracy Theories, The Rhetoric of World War, What Ever Happened to Stetesless Terrorism, Intervention and U.S Politics, What do Americans Think?, Why Can’t We Look Ahead, A Time for Partisanship or Bipartisanship, Islamofascist dan sebagainya (Pembaca yang tertarik menelaah lebih lanjut isi tulisan Ben Rhodes dimaksud silakan klik tautan ini)
Pantaslah ia kini mengetuai tim penulis pidato kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Anggota tim lainnya yang merupakan “Obama’s Inner Circle”, yakni Gregory Craig, Richard Danzig, Scott Gration, Anthony Lake, Denis McDonough, Samantha Power, Susan Rice dan Daniel Shapiro. (Agar pembaca mengenal “Obama’s Inner Circle” silakan klik tulisan Eli Lake “Obama’s Brain Trust Taking Shape” di New York Sun pada 21 Februari 2009)
Rhodes sendiri adalah salah seorang tim penulis pidato Obama yang dikenal sebagai “elder statesman” bersama dengan Jon Favreau dan Adam Frankel. John Favreau termasyur sebagai penulis Pidato Pelantikan Presiden Barack Obama di Washington pada 20 Januari 2009.
Kutipan favorit Rhodes berasal dari John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat yang para pembantu utamanya orang-orang muda seperti dirinya: “Our Problem are man made; therefore, they can be solved by man.” (Masalah kami adalah buatan manusia; lantaran itu, masalahnya dapat dipecahkan oleh manusia)
Karirnya dimulai dengan bekerja di bidang politik lokal di New York. Kemudian berlanjut sebagai asisten khusus Lee H. Hamilton, mantan anggota Kongres, yang juga menjabat sebagai Presiden Woodrow Wilson International Center for Scholar semenjak Juni 2002, dan juga penulis pidato lepas berbasis di Washington.
Rhodes bekerjasama dengan Hamilton yang memangku jabatan sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional tentang Serangan Teroris paska peristiwa 11 September 2001. Ia membantu konsep rekomendasi kebijakan mengenai Komisi 11/9. Ia juga bertindak sebagai editor bersama Hamilton dan Thomas H Kean dalam menulis buku berjudul Without Precedent: The Inside Story of the 9/11 Commission. Disamping itu ia berkontribusi di Grup Kajian Masalah Irak (the Iraq Study Group).
Rhodes pernah sebentar menjadi penulis pidato untuk mantan Gubernur Virginia dari Partai Demokrat Mark Warner, yang dia sebut “salah seorang yang benar-benar berbakat dalam sisi pesan kebijakan.”
Rhodes kemudian bergabung dengan tim kampanye Barack Obama yang saat itu mencalonkan diri sebagai kandidat presiden. Karena keahliannya dalam masalah internasional, ia ditunjuk sebagai penulis pidato kebijakan luar negeri kampanye Obama sejak 2007. Dia salah seorang kepercayaan Obama dalam politik luar negeri, dan salah satu dari dua orang penasihat kebijakan internasional yang digaji di markas besar kampanye Obama di Chicago.
Para pembantu mantan anggota Kongres Lee Hamilton seperti McDonough, Shapiro dan Dan Restrepo juga dipindahkan untuk membantu Obama dalam tim kampanye. Di Chicago, Rhodes merancang pidato-pidato kampanye Obama yang berkenaan dengan masalah kebijakan luar negeri bersama dengan oleh Denis McDonough. Salah satu tugas utamanya memilah-milah dan merangkum pemikiran lebih dari 250 orang penasehat kebijakan luar negeri.
Kelompok yang terdiri dari 250 penasihat dibagi menjadi kelompok yang berhubungan dengan Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, Rusia-Eropa, pertahanan, veteran, kontraterorisme, demokrasi dan pembangunan, dan lembaga-lembaga multilateral.
Tim kampanye Obama telah menolak untuk menyebutkan nama-nama penasihat itu, dan mengatakan bahwa beberapa dari mereka adalah relawan. Sementara waktu mereka bekerja dalam pekerjaan di instansi pemerintah dan nonprofit yang tidak ingin menjadi publik dan terkait dengan kampanye politik partisan.
Dari markas besar kampnye Obama di kota Chicago, Rhodes merancang pula beberapa konsep pidato yang paling penting untuk kampanye Obama di Eropa dan Timur Tengah pada akhir Juni 2008. Negara yang dikunjungi meliputi Perancis, Jerman, Israel, Yordania dan Inggris.
Di tempat-tempat yang dikunjungi Obama tersebut, sambutan dari masyarakat sangat luar biasa dan meriah disertai tempik sorak membahana tatkala Obama menyampaikan pidato. Peristiwa itu berlanjut hingga akhirnya Barack Obama memenangkan pertarungan dengan McCain pada pilpres 4 November 2008 dan dilantik pada 21 Januari 2009.
Betapa dekat dan akrabnya hubungan antara Presiden Barack Obama dan Ben Rhodes ini, bisa kita lihat dari suatu peristiwa setelah pidato Obama di Praha pada 5 April 2009 mengenai perlucutan senjata nuklir.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Amerika Serikat, di atas pesawat Barack Obama memimpin rombongan yang menyertai untuk memberikan tepuk tangan meriah kepada Rhodes atas kerja timnya. Dan ketika majalah The Economist menerbitkan berita pidato Obama yang disampaikan di Praha, Obama berkata kepada asisten pribadinya untuk memastikan Rhodes menerima salinan majalah tersebut.
“Ia orang yang benar-benar mengerti apa yang dimaui dan dikatakan presiden,” ujar David Axelrod, seorang konsultan politik Amerika terkemuka yang bermarkas di Chacago. Axelrod terutama dikenal sebagai kolumnis politik di media Chicago Tribune.
(Sumber : Dwiki Setiyawan - internasional.kompas.com)
Rabu, 09 Maret 2011
Kekalahan yang elegan, kemenangan yang santun
Akan tetapi karena barangkali semua orang, termasuk saya, lebih menunggu-nunggu pidato kemenangan Obama, maka perhatian awal saya pada pidato Mc Cain jadi menyurut. Namun pagi ini, pidato itu kembali menyeruak dan menyadarkan saya tentang sebuah "etika berpolitik" yang indah, yang patut kita rujuk dalam mengelola demokrasi di negeri kita tercinta.
Sengaja saya mulai dengan kekalahan yang elegan, karena tradisi ini memang saya rasa masih kurang berjalan di negeri kita. Banyak kasus dapat kita baca dan mungkin juga kita alami, pemilihan kepala daerah berakhir dengan kemelut.
Bahkan berlanjut dengan adu fisik dan berbagai bentuk kekerasan yang lain. Demokrasi bukanlah hanya sekedar metode untuk memperoleh kekuasaan, tapi ia juga sebuah "etika". Dan "etika" inilah yang perlu kita perjuangkan untuk menjadi tradisi bersama dengan proses pemilihan umum.
Meskipun etika berdemokrasi dengan mengakui kekalahan barangkali pernah kita lihat sebelumnya, namun acara pemilihan Presiden Amerika kemaren saya kira adalah yang paling diikuti di jaringan media dunia. Sehingga, hampir sebagian besar masyarakat dunia dapat mengikuti, termasuk mengikuti pidato kekalahan elegan dari Mc Cain.
Kemaren lusa, sebelum peghitungan cepat usai dilakukan di seluruh wilayah Amerika Serikat, namun sudah dapat dipastikan bahwa penghitungan cepat di beberapa daerah lain memenangkan kubu Obama, Mc Cain langsung menyampaikan pidato kekalahan. Secara jentelmen ia mengakui kekalahannya.
Ia mengatakan bahwa kekalahan itu karena kesalahannya. Karena pendukungnya sudah bekerja keras untuk memenangkan pencalonannya. Meski Mc Cain pun sebenarnya, dalam usianya yang sudah 72 tahun itu, masih berjuang dengan gigih di detik-detik terakhir dengan melakukan perjalanan maraton 3.000 km untuk kampanye. Selain mengakui kekalahannya, Mc Cain juga memuji dan menghormati keunggulan lawan... meski terdengar suara "huuu...." publik yang tidak senang. Tapi Mc Cain dengan bahasa tubuh dan lisan tetap menyampaikan penghormatannya untuk Obama. Mc Cain, seorang veteran perang Vietnam benar-benar menunjukkan sikap ksatria dan menunjukkan kebesaran hati. Ia benar-benar menunjukkan sebuah etika yang indah, sebuah kekalahan yang elegan.
Di sisi lain, pidato Obama juga memang memukau, semua orang mengakui. Dengan santun ia juga memuji Mc Cain dan Sarah Palin sesaat setelah kemengan mutlak diraihnya. Mereka adalah orang-orang terhormat yang telah berjuang dengan gigih. Namun Amerika menginginkan perubahan dengan dirinya. Satu hal lain yang saya catat, kesantunan itu secara eksplisit disampaikan juga oleh Obama dengan mengajak Mc Cain bekerjasama.
Dengan undangan seperti ini, sebuah kemenangan menjadi kemenangan bersama, bukan kemenangan kelompok. Dan saya sedikit banyak yakin bahwa nantinya pemerintahan Obama akan cenderung bipartisan. Tidak dipimpin oleh orang-orang Partai Demokrat saja [Sebagian analis menduga bahwa kemungkinan Mc Cain/Hagel akan menjabat di pucuk pimpinan Pentagon. Saya kira hal-hal yang berkaitan dengan Homeland Security juga jadi tempat yang pantas untuk Partai Republik].
Dengan dua pidato seperti itu, kekalahan jadi elegan dan kemenangan jadi santun. Dan melihat politik menjadi power game yang indah.
Pertanyaan saya, atau juga harapan saya, adakah hal yang sama akan tercipta di Indonesia? Biar berat melihat kenyataan yang ada, namun kalau semua sudah mulai sadar dan memiliki political will untuk berubah, kesantunan berpolitik itu pasti bisa juga tercipta di Indonesia. Memang elit politik perlu memulainya dan aturan "mengakui kekalahan" dalam UU Pilpres adalah sebuah langkah awal dari tradisi berpolitik yang cantik.
Namun itu saja tak cukup. Meminjam bahasa salah satu volunteer Obama dari Pensylvania, yang baru memutuskan memilih Obama dua bulan sebelum pemilu, bahwasanya "bukan pemerintah yang bisa mengubah rakyat ini", tetapi sebaliknya "rakyatlah yang harus berani mengubah sistim pemerintahan di negeri ini". Saya yakin, bahwa masyarakat kita yang sudah semakin rasional pasti bisa memulai perubahan itu.
Satu hal lain yang barangkali perlu kita renungkan juga, bahwa menjadi tokoh politik juga harus siap untuk "dinilai" oleh publik. Kesiapan inilah yang saya rasa membantu orang-orang politik untuk siap kalah atau menang. Dengan mental siap dinilai publik maka kalah pun jadi hal yang tidak berat. Salah satu contoh "penilaian publik" adalah "komedi politik".
Contoh ini, di Indonesia baru dicoba dan mungkin belum sepenuhnya dapat diadopsi masyarakat, termasuk oleh sebagian politikusnya. Orang masih sensitif ketika misalnya, tokoh politiknya dikerjain sedemikian rupa oleh komedian, atau diberi anekdot-anekdot yang sarkastik. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim, salah ngomong, mencemooh seorang tokoh... lalu dibawa ke pengadilan.
Saya kira pendewasaan politik itu harus secara terus menerus dilakukan baik oleh elit maupun di kalangan masyarakat. Bahwasanya apa yang diatributkan orang lain dengan segala keburukannya harus diterima oleh para elit politik sebagai kritik yang membangun. Dan mereka harus bisa menenteramkan pendukungnya, bukan malah menyulut mereka.
Memang menjadi public figure, perlu dan harus mau menerima banyak masukan termasuk kritik. Dengan sikap dewasa, kritik selayaknya diterima tetapi cemooh dan ejekannya tidak perlu dimasukkan ke dalam hati. Kepala boleh panas, tapi hati harus senantiasa tetap dingin. Kata orang bijak, "Kita hanya punya dua tangan.
Membungkam mulut orang yang benci paling-paling hanya bisa dua. Sebaliknya, menutup telinga dengan dua jari saja sudah cukup untuk menyaring semua ejekan dan hinaan".
Akhirnya, semoga pemilu Amerika kali ini benar-benar menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Saatnya kita mencoba kampanye yang lebih serius; minoritas yang tak perlu lagi canggung mengajukan diri, kalau memang mau, mampu dan siap bersaing, kenapa tidak mencoba?; mengajak untuk selalu menyatukan bangsa; mengajak untuk menjadi bangsa yang bermartabat, jujur, berani mengakui kelemahan dan kelebihan seseorang; tahan terhadap ujian dari siapapun; dan tidak menjadi greedy (tamak) terhadap semua kemenangan yang diperoleh. Insya Allah, dengan mencoba hal itu Indonesia bisa juga menjadi teladan. Saya sangat yakin tentang hal ini [Yes, we can!].
Salam,
Dra. Hj. Safira Machrusah, MA (Asian Studies) Hon.
Calon Anggota Legislatif DPR-RI
(Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia)
Daerah Pemilihan Jawa Tengah II
(Demak, Kudus dan Jepara)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB 13)
Nomor Urut 3
Pidato Kekalahan Perlu Ditradisikan
Jumat, 7 November 2008 | 01:06 WIB
Jakarta, Kompas - Hanya sekitar 30 menit setelah Barack Obama dinyatakan menang, John McCain langsung memberikan pidato pengakuan kalah dan langsung menyatakan Obama yang dulu pesaingnya itu adalah presidennya. Ketua DPR Agung Laksono menilai tradisi pemilu di Amerika Serikat ini perlu ditiru Indonesia.
”Pidato pengakuan kalah itu tradisi bagus,” kata Agung menjawab pertanyaan wartawan saat mengunjungi Ruang Wartawan DPR, Jakarta, Kamis (6/11).
Menurut Agung, pidato pengakuan kalah dari McCain itu juga menunjukkan sikap satria dan memberikan teladan kepada pendukungnya.
Di pihak lain, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga harus benar-benar memastikan pelaksanaan pemilu di Indonesia berjalan jujur, adil, dan tidak memihak. Dicontohkan, pemilihan kepala daerah banyak berujung di pengadilan karena adanya rekayasa. ”Keberhasilan pemilu di Amerika Serikat itu bukan semata-mata ditentukan dua kandidat, tetapi juga karena sistemnya menjamin tidak ada rekayasa,” ujar Agung.
Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang berpendapat, pidato pengakuan kalah diatur dalam Undang-Undang Pemilu Presiden. Karena pembahasan RUU telah selesai, sebaiknya KPU yang mendorong tradisi itu.
”Manakala politisi kita sudah dewasa, memang tidak perlu diatur. Tetapi, kita ini, yang sudah diatur saja banyak dilanggar, apalagi tidak diatur,” ujarnya.
Selain penting untuk pendidikan politik, pidato pengakuan kalah juga memberikan kepastian hukum hasil pemilu dan menciptakan stabilitas politik pascapemilu. (SUT)
Sumber: Kompas
(safiramachrusah.blogspot.com)
Baca Juga Artikel Berikut Ini :
Bagaimana supaya Anda menang di PILEG bergantung dari anda membangun AUDIEN ANDA SENDIRI dan membangun DAYA AJAK yang kuat. Bagaimana Caranya?
Silahkan baca artikel-artikel pemenangan PILEG berikut ini :
- Persiapan Menyeluruh Untuk Pemenangan Anda di PILEG
- Inilah Penyebab Proses Pemenangan Dilakukan Serampangan
- Mau Nyaleg? Sempatkan Untuk Mempelajari Situasi dan Iklim Di Internal
- 12 Wilayah Rahasia Ini Jarang Semua Di Garap Caleg Dalam Marketing Politik
- Buku ini awalnya hanya untuk catatan pribadi saat jadi ketua tim sukses pileg 2009
- Mau Nyaleg? Sempatkan Untuk Mempelajari Situasi dan Iklim Di Internal
- Fenomena Partai Yang Seharusnya Jadi Cambuk Bikin Terus Perbaikan Internal Tanpa Kecuali
- Cari Pengurus Partai Ternyata Sulit. Bisa-bisa Kelimpungan
- Buku : Kunang-kunang Pemenangan Pemilu
- Inilah Penyebab Proses Pemenangan Dilakukan Serampangan
- Mendalami Pemilih Pragmatis
- Bagi Caleg Kendala Vital Untuk Menang Pileg Sebenarnya Hanya Satu
- Jangan Salah Pendekatan, Efeknya Fatal Untuk Kemenangan Sang Caleg
- 10 Bahaya Pragmatis Yang Mungkin Jarang Dipikirkan Serius Efeknya Sangat Berbahaya
- Semua Inti Tulisan Pemenangan Pileg Tentang Hal Ini, Apa Saja?
- Bila Nyaleg Jangan Kalah Sama Tukang Sayur Keliling
- Bukan Yang Terbaik Tapi.....
- Asyikkkk!!!!Tulisan Saya Di Muat dan Di Sebar
- Cara Menang Mutlak di Pileg
- Persiapan Menang Nyaleg Di Pileg 2019
- Berbekal Sejak Dini, Dengan Strategi Pemenangan Yang Ampuh
- Mendalami 2 Jenis Pemilih Pragmatis, Anda Jangan Terperangkap
- 6 Penyebab Yang Menjadikan Terpaksa Harus Pragmatis
- 5 Hal Ini Sepertinya Harus Ada Pada Caleg Supaya Tak Beresiko Besar
- Caleg Harus Siaga Diri Mengamankan Diri, Aman dari Sisi Ini
============================
Lanjutkan ke SESI 2 : Klik disini!
-------------------------------------------------
