Home | Cara Beli Buku |Ikut Facebook| Daftar Isi Buku | Tentang Buku | Buku Rekomendsi | Buku GRATIS | Artikel Pemenangan | Dibalik Layar
4 Elemen Pemenangan PILEG DPRD II, Pelajari >>>>> PARTAI | CALEG | TIM SUKSES | CALON PEMILIH | KURSUS PEMENANGAN PILEG
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
>>>>>>>>Klik sekarang !Periksa sejauh mana kesiapan anda saat ini untuk Nyaleg Supaya Benar-benar Meraih Kemenangan di Pemilu 2019

Jumat, 03 November 2017

10 Bahaya Pragmatis Yang Mungkin Jarang Dipikirkan Serius Efeknya Sangat Berbahaya

Bisa apa sih kamu? Mikir tuh terlalu melambung jauh, gak nyampe kepada fakta yang sebenarnya, karena bukan seperti itu yang terjadi. Saya memarahi diri sendiri saat menulis artikel ini karena terlalu lancang menulis yang terlalu jauh. Bagaimana mungkin si awam politik ini, yang hanya ngajar anak SD, yang sehari-hari bermain dengan bocah di sekolah, menulis hal yang sanga besar ini, menyangkut negara pula. Hahahaha...mentah.

Sejauh ini dari semua tulisan yang mungkin anda baca bukan untuk mengkritik. Apalah artinya kritikan semut untuk seekor dinosaurus. Tak akan berdampak apapun. Dan tulisan ini memang bukan tujuan ke sana. Tulisan yang tersebar ini hanya berharap agar bisa menjadi bahan evaluasi. Menjadi cambuk dan kelitikkan yang mungkin bisa mengingatkan politisi untuk terus menjadi garda bagi partainya. Melindungi, mengamankan, membangun kekuatan yang semakin bertambah-tambah untuk partainya. Ini tujuannya tak ada yang lain. Kritik sangat dibutuhkan untuk mempertajam kualitas, ini yang saya pahami. Hanya saja untuk mengkritik orang-orang besar, berilmu dan berkuasa akan beda cerita. Mengkritik hanya akan menghabiskan energi.

Stopppp. Saya ingin mengatakan ini kepada para caleg. Stop apa? Stop menyalahkan calon pemilih sebagai pemilih yang pragmatis. Bukan tidak boleh membicarakan mereka mereka dan membahas menganai pemilih pragmatis. Tapi AWALI pembicaraan untuk mengatasi solusi pragmatis ini dari hulu terlebih dahulu. Jangan langsung memvonis calon pemilih tapi ayo bercermin dulu. Hadapkan wajah di depan cermin dan tanyakan kepada dia yang ada dicermin itu apakah kamu tidak pragmatis.

Bukankah saat caleg mengeluarkan uang agar terdaftar menjadi kandidat caleg di partai, ini tindakan pragmatis?

Bukankah negosiasi jatah jabatan atau posisi saat berkoalisi dengan partai lain, ini tindakan pragmatis?

Jadi sebelum pemilihan suara terjadi, sebelum kampanye pemenangan di gemborkan dan dihujankan ke bawah, ketengah khalayak pemilih, pragmatis sudah dibangun terlebih dahulu oleh para pemainnya.

Kemudian anda menyaksikan jelang pemilu, money politik, menyebar menghantam bertaburan ke para calon pemilih. Uang datang sendiri begitu mudahnya. Ditengah ekonomi keluarga yang morat-marit dan mencari uang sangat sulit maka kedatangan uang dengan sendirinya adalah angin segar meski tak seberapa. Karena berulang-ulang maka jadi terbiasalah ia.

Begitulah pemetaan bagaimana pragmatis dilakukan berjamaah. Hanya saja di awali oleh para politisi itu sendiri. Memang tidak semua, tapi bukan rahasia lagi bahwa pragmatis dilakukan oleh buakn hanya satu caleg atau satu partai saja.

Sangat berbahya bila pragmatisme sudah menjadi kebiasaan yang akut. Ujung dari sebuah misi politik hanya keuntungan pribadi. Oh tidak......politis ini menggelontorkan program ini itu, ia sangat peduli. Sangat pro rakyat. Eittt tunggu dulu. Apakah ada udang dibalik batu.Apakah ada tujuan sunyi dibalik dibalik penggelontoran program. Misal. Program nasional pro rakyat sehingga rakyat menjadi simpatik dengan program itu, tapi di kucurkan jelang pemilu. Coba analisa. Apa dampaknya pada pemenangan. Apakah tidak akan menyumbangkan pengaruh? Saya melihatnya 'pengaruhnya besar'. Dan opini perlawanan apapun dari pihak lawan, untuk kalangan pelosok yang merasakan progam itu secara nyata, maka tidak akan menjadi efek berarti. Dan jurus ini kelihatannya sangat manjur.

10 bahaya yang muncul dan mengancam demokrasi berujung merongrong negara. (Versi penulis)

1. Pragmatis akan melahirkan peternak-peternak politisi. 
Ini bahasa terkesan sangat kasar sepertinya. Tapi inilah yang kelihatannya sangat tepat untuk menyebut politisi semasam ini. Orientasi materi yang akan dikejarnya saat menang maka mereka akan melakukan apa saja. Termasuk ada pihak ketiga yang menyokong pemenangannya dengan komitmen-komitmen tertentu. "Saya akan dukung tapi nanti robah peraturan". "Saya akan dukung dengan berapapun dana tapi lindungi perusahaan saya." Saya dukung dengan berapapun dana tapi amankan kasus saya.""Saya akan dukung tapi bangun opini agar kelompok tertentu terpojok dan buruk citranya.""Saya akan dukung tapi......tapi...tapi....dst." Apakah ada transaksi seperti ini? Untuk menjawabnya bisa diwakili dengan membaca banyak sejarah terkait hubungan diplomatik antar negara, membaca banyak tema terkait hubungan bilateral dan hubungan internasional antar negara. Invasi, embargo, inteligen, pemutusan hubungan ekonomi, pemulangan duta besar, menandakan apakah untuk ini semua? Kekuatan dukungan negara besar dengan inteligen yang kuat bisa memuluskan kemenangan pemilu.

2. Pragmatisme Menciptakan Kekuasaan Permanen.
Dalam partai besar terdapat pendirinya yang begitu kuat pengaruh dan kekuasaannya. Begitupun para fungsionaris dan politisi senior di dalamnya. Tak lupat juga bahwa mereka memiliki kekuatan financial yang kuat. Ini akan menjadi bumerang kepada partai ini jika tidak diciptakan dinamika organisasi partai yang baik. Modal besar, jaringan kuat dan pengaruh yang tidak berbanding akan dengan mudah mementahkan apapun hasil pemilihan pimpinan partsi dengan berbagai alasan, bila hasil tersebut tak sesuai dengannya. Bahkan akan sangat mudah memasukkan orang-orang baru menjadi pejabat-pejabat tinggi partai. Maka siapa yang berani? Tidak ada. Dengan demikian situasi ini sangat memudahkan untuk melanggengkan kekuasaan.

3. Pragmatis Menyebabkan Kehancuran Meski Pada Partai Besar Sekalipun.
Perebutan tampuk kepemimpinan untuk meraih kekuasaan di partai akan sengit karena adu kekuatan yang seimbang. Bisa-bisa partai menjadi dua kubu, ini masih lebih bagus karena masih ada dalam kendaraan yang sama. Yang parah adalah efek persaingan perebutan tampuk pimpinan partai menyebabkan loncatnya tokoh ke partai lain. Bahkan beberapa yang punya pengikut loyal, punya jaringan yang terpelihara kokoh dan modal besar, ia mendirikan partai baru. Dan jadilah saingan. Secara Otomatis Partai besar tadi menjadi berkurang volume suaranya maupun volume kekuatannya. Maka tinggal mengunggu waktu, apakah ia bisa bertahan lagi untuk bisa menjadi partai peserta pemilu pada pemilu mendatang?Beberapa partai besar sudah lenyap.

4. Pramatisme Menciptakan Demokrasi Semu. Demokrasi hanya akan menjadikan Proses Demokrasi sebatas Pencoblosan Suara bukan demokrasi sebagaimana idealnya. Memilih karena benar-benar pilihan, bukan memilih karena efek komitmen dan pemberian.

5. Pragmatis Mematikan Semangat Politisi Pemula. Politisi pemula biasanya tidak terlalu bermodal besar kecuali ia pengusaha, pejabat, dll. Ia bisa jadi hanya bermodal semangat atau ia di minta oleh salah satu partai untuk jadi caleg karena kuota masih tersedia dan kebetulan ia mau. Bila melihat gelagat caleg pesaing akan melakukan money politik dan dilapangan, masyarakat juga berharap demikian maka ini mematikan semangat. Hati bisa mengkerut dan yang tersisa hanya harapan. Memang tidak semua polisi pemula demikian tapi ini cukup untuk menjatuhkan mental sebelum berperang.

6. Pragmatis Menjadikan Suara Bisa Di Beli. 
Pragmatis kebanyakan direalisasikan dengan memberikan uang sebelum pencoblosan, di daerah saya biasanya pagi-pagi menjelang berngkat. Ada yang menunggu di jalan lewat sambil hati-hati supaya tidak ada yang mencurigai. Atau masuk rumah ke rumah yang nantinya dari rumah itu diminta beberapa saudaranya untuk di bagi. Bila suara bisa di beli maka pemodal besar lah yang akan menang. Mereka bisa jadi bukan orang politik tetapi keberadaan pemegang kebijakan sangat penting untuknya supaya tujuan usahanya lancar.


7. Pragmatis Mematikan Minat Terjun Ke Politik.
Pragmatis efeknya berpengaruh ke segala arah. Pragmatis kalangan bawah, dimasyarakat, menyebabkan caleg yang punya idealisme hanya akan menelan kekalahan oleh mereka yang bermodal banyak.

Memang terjun di politik harus tebal. Tebal dana, tebal muka dan tebal mental. Tebal dana agar pemenangan dengan cara apapun bisa dilakukan karena pemenangan bagi sebagian oang butuh modal besar apalagi berencana untuk money politik. Bagi yang tidak money politik, setidaknya dana untuk beli konsumsi tim sukses saat rapat pemenangan. Tebal muka sangat dibutuhkan. Saat kasusnya diproses dan ia jadi tersangka ia harus bisa tetep bermanis muka melempar senyum seperti tak bersalah. Pada pemilu yang lalu menjadi musuh yang saling menjauhkan, kini harus berkoalisi, bekerja sama untuk memenangkan sang kandidat tertentu. Tebal mental juga sangat dibutuhkan karena bila mental lembek, sekali di serang dengan opini negatif dan pembusukan citra hati menjadi ciut, apalagi dilakukan oleh kekuatan besar. Politik memunculkan iklim yang tidak bisa ditebak. Kadang memans, kadang sejuk tergantung kepentingan. Tanpa tebal mental maka akan mematikan minat untuk kembali melanjutkan terjun di politik.

8. Pragmatis Menyebabkan Keputusasaan. 
Pragmatisme melahirkan jiwa tergoncang. Kemenangan yang diharapkan ternyata berlari jauh. Uang sudah habis besar untuk money politik ternyata hasilnya nihil. Ketika hitungan suara di mulai dan caleg lain lebih unggul maka gusar mulai datang. Ketika hasil akhir menunjukkan angka yang sangat kecil maka tiba-tiba pikiran menjadi lepas kendali. Ada yang pingsan, ada yang stres, ada yang gila bahkan ada yang mengakhiri hidup dengan tambang melingkar di leher. Mereka putus asa. Ini terjadi terutama pada pemilu 2009.

9. Pragmatis Menyebabkan Situasi Negara Terancam
Negara yang merasa berjaya di dunia, superpower, pasti tidak akan membiarkan cengkraman kekuasaannya, baik kekuatan ekonomi dan kekuatan politik, menjadi melemah di negara lain. Maka pada setiap pemilu pasti akan ada keterlibatannya. Hanya saja tersembunyi melalui agen-agen rahasianya. Bila hasil analisa seseorang bisa menjadi ancaman maka saatnya untuk dimusnahkan atau dihancurkan atau di tenggelamkan. Tak terdengar, tak terlihat, Hancurkan.

Begitupun sebaliknya. Bila seorang kandidat dinilai akan menguntungkan mereka maka mati-matian akan di dukung. Segala cara akan dilakukan untuk memenangkan sang kandidat. Apalagi kandidat itu adalah boneka yang sudah dikader jauh-jauh hari. Tak terdengar, tak terlihat, Menangkan.
Bila banyak politisi boneka, bila banyak politisi yang menang berpihak kepada kepentingan diri pribadi dan bukan negarawan maka akan membuat sebuah hukum yang menggerogoti keutuhan dan kekayaan bangsa. Peraturan dan undang-undang yang ada dibuat dengan sangat halus dan sulit tertangkap radar untuk melanggengkan para pemodal dan menghantam para pengkritik kebijakan atau lawan politiknya.

Untuk orang-orang awam,kejadian-kejadian seperti ini mungkin dianggap omong kosong, atau khayalan. Tetapi bagi mereka yang melihatnya, membuat mereka gerah dan terus melakukan kritik dan perlawanan baik perlawanan politik maupun perlawanan publik melalui media.

10. Pagmatisme Mengajarkan Untuk Berkhianat
Saat ini pertemanan kadang hanya di permukaan. Saat ada daging segar maka mereka pun pergi menyambangi tempat dimana daging itu ada. Tak ubahnya anjing yang akan lari merapat saat ada daging. Jaman dimana materi sedang di cari maka disitulah orang-orang berkumpul. Demi uang mereka menjauhi karena si caleg tak berduit.

Kenyataan seperti ini menjadi sulit untuk di tebak. Mengkhianati kawan, untuk orang-orang tertentu, sudah seperti perbuatan biasa, yang tak akan ada efeknya. Dianggapnya angin lalu, mencari dimana tempat yang sedang ia kejar yakni peluang adanya daging segar. Lupa kalau pemilu pasti berulang, dan pemilik daging tak ada jaminan untuk terus berada di atas angin. Tak selalu berjaya. Sementara kehidupannya yang masih panjang akan terus berlangsung hingga nyawa berakhir. Tetapi namanya sudah dicatat dengan citra yang buruk. "Penghianat, Bunglon, Gak punya hati, tidak bisa dipercaya. dan citra buruk senada lainnya."

Apalah untungnya berkhianat padahal ia sendiri kelak akan dihianati oleh yang didukungnya saat sang caleg menang. Karena sang caleg merasa bahwa si penghianat ini sudah di bayar untuk mencoblosnya.

Demikian tulisan 'ngelantur' ini. Tak perlu dikoreksi tak perlu di kritisi. Cukup dengan mengakatak 'emang iya akibat pragmatis sebegitu hebatnya?'

Oh ya.....ayo dong bantu rekan2 kita se-Indonesia biar keranjingan baca, biar kita-kita mulai melek baca dan menyebarkan semanga ini ke yang lainnya. Oh ya..bila tulisan yang anda baca berasa ada manfaatnya,, janji yaa...bantu untuk di share. :):):):)

Banyak nasehat tersebar di internet bagaimana anda bisa menang pemilu. Apakah cocok dengan yang anda cari selama ini? Semoga saja. Saya harap di blog sederhana ini pun anda mungkin bisa menemukan strategi yang anda cari.

Saya sudah menulis langkah-langkah saya saat jadi ketua tim sukses caleg pada pileg 2009. Dan berhasil. Semoga cara saya yang bisa anda dapatkan menyebar di banyak halaman di blog ini bisa anda gunakan untuk pemenangan anda.

Ada ebook yang bisa anda dapatkan Gratis untuk anda bawa pulang dan dibaca dirumah sambil nyantai. Klik disini, lalu silahkan pilih sesuai dengan Judul yang anda inginkan. semoga bermanfaat.

Salam dari saya.

Sunaryo Sariudin S.Pd.
*Ketua Tim Sukses Caleg pada pileg 2009, hasil 1 kursi, suara 5.400.
*Penulis buku : Buku Menang Cemerlang Tanpa Uang Merebut Kursi Legislatif
* blog : https://menangpemilulegislatif.blogspot.co.id/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Juga Artikel Berikut Ini :

Bagaimana supaya Anda menang di PILEG bergantung dari anda membangun AUDIEN ANDA SENDIRI dan membangun DAYA AJAK yang kuat. Bagaimana Caranya?


Silahkan baca artikel-artikel pemenangan PILEG berikut ini :

  1. Persiapan Menyeluruh Untuk Pemenangan Anda di PILEG
  2. Inilah Penyebab Proses Pemenangan Dilakukan Serampangan
  3. Mau Nyaleg? Sempatkan Untuk Mempelajari Situasi dan Iklim Di Internal
  4. 12 Wilayah Rahasia Ini Jarang Semua Di Garap Caleg Dalam Marketing Politik
  5. Buku ini awalnya hanya untuk catatan pribadi saat jadi ketua tim sukses pileg 2009
  6. Mau Nyaleg? Sempatkan Untuk Mempelajari Situasi dan Iklim Di Internal
  7. Fenomena Partai Yang Seharusnya Jadi Cambuk Bikin Terus Perbaikan Internal Tanpa Kecuali
  8. Cari Pengurus Partai Ternyata Sulit. Bisa-bisa Kelimpungan
  9. Buku : Kunang-kunang Pemenangan Pemilu
  10. Inilah Penyebab Proses Pemenangan Dilakukan Serampangan
  11. Mendalami Pemilih Pragmatis
  12. Bagi Caleg Kendala Vital Untuk Menang Pileg Sebenarnya Hanya Satu
  13. Jangan Salah Pendekatan, Efeknya Fatal Untuk Kemenangan Sang Caleg
  14. 10 Bahaya Pragmatis Yang Mungkin Jarang Dipikirkan Serius Efeknya Sangat Berbahaya
  15. Semua Inti Tulisan Pemenangan Pileg Tentang Hal Ini, Apa Saja?
  16. Bila Nyaleg Jangan Kalah Sama Tukang Sayur Keliling
  17. Bukan Yang Terbaik Tapi.....
  18. Asyikkkk!!!!Tulisan Saya Di Muat dan Di Sebar
  19. Cara Menang Mutlak di Pileg
  20. Persiapan Menang Nyaleg Di Pileg 2019
  21. Berbekal Sejak Dini, Dengan Strategi Pemenangan Yang Ampuh
  22. Mendalami 2 Jenis Pemilih Pragmatis, Anda Jangan Terperangkap
  23. 6 Penyebab Yang Menjadikan Terpaksa Harus Pragmatis
  24. 5 Hal Ini Sepertinya Harus Ada Pada Caleg Supaya Tak Beresiko Besar
  25. Caleg Harus Siaga Diri Mengamankan Diri, Aman dari Sisi Ini

============================

Lanjutkan ke SESI 2 : Klik disini!

-------------------------------------------------